Lebaran Ajang Menyehatkan Jasmani dan Rohani pada Penderita Diabetes

Hari Raya Lebaran sejatinya adalah momentum pembersihan rohani yang memiliki korelasi positif terhadap kondisi fisiologis pada pasien diabetes; melalui aktivitas silaturahmi yang hangat dan ibadah yang khusyuk, tubuh mampu menekan produksi hormon kortisol (hormon stres), sehingga resistensi insulin dapat berkurang dan kadar gula darah menjadi lebih stabil. Namun, ketenangan jiwa ini harus dibarengi dengan kewaspadaan jasmani terhadap “jebakan” kuliner khas hari raya yang cenderung tinggi lemak jenuh dan santan. Untuk menyiasatinya, pasien diabetes sangat disarankan menerapkan Metode Piring T sebagai alat kendali porsi otomatis: mengisi setengah piring dengan sayuran berserat tinggi dan buah untuk menghambat penyerapan glukosa di usus, serta membatasi karbohidrat (ketupat) dan protein berlemak (opor/rendang) masing-masing pada seperempat bagian piring.
Hindari juga makan minum manis, gorengan, krupuk. Sebagai strategi tambahan, pilihlah hanya satu jenis hidangan “idola” di setiap rumah yang dikunjungi agar akumulasi kalori harian tidak melonjak tajam.

Selain pengaturan nutrisi, pemanfaatan tradisi Lebaran sebagai sarana aktivitas fisik (NEAT) sangat dianjurkan; dengan memilih berjalan kaki saat mengunjungi tetangga atau tetap aktif membantu tuan rumah, pasien dapat meningkatkan pembakaran glukosa otot secara alami tanpa harus melakukan olahraga berat. Kewaspadaan terhadap sugar spike juga harus ditingkatkan, mengingat konsumsi hanya 2–3 butir kue nastar sudah memiliki kepadatan kalori yang setara dengan setengah porsi nasi putih. Oleh karena itu, memprioritaskan air putih untuk menjaga hidrasi sebelum makan besar adalah langkah preventif yang cerdas guna menghindari rasa lapar palsu. Terakhir, euforia kemenangan tidak boleh melonggarkan kepatuhan pengobatan; penggunaan insulin atau obat oral harus tetap sesuai jadwal, disertai dengan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) secara berkala. Segera lakukan konsultasi medis jika muncul gejala kegawatdaruratan seperti lemas hebat, dehidrasi berat, atau penurunan kesadaran akibat fluktuasi gula darah yang ekstrim.

Disusun oleh : BIntang Wawang A, Co-Ass Ilmu Penyakit Dalam Periode 2 Februari 2026 (P68)

🌙Puasa Sehat, Lebaran Nikmat Tanpa Gula Darah Meningkat

Puasa bagi penyandang diabetes bukan soal bisa atau tidak bisa — tetapi soal strategi. Dengan pendekatan yang tepat, Ramadhan justru bisa menjadi momentum untuk memperbaiki kontrol gula darah. Kuncinya ada pada perencanaan: memilih jenis karbohidrat yang lebih stabil, memahami respons tubuh terhadap makanan, menyesuaikan jadwal dan dosis obat bersama dokter, serta rutin melakukan pemantauan gula darah. Puasa yang dijalani secara terukur membantu tubuh beradaptasi dengan pola makan yang lebih teratur dan metabolisme yang lebih efisien.

Hasilnya? Saat Lebaran tiba, tidak perlu khawatir dengan lonjakan gula darah. Karena kontrol sudah dibangun sejak hari pertama Ramadhan. Puasa jadi lebih tenang, Lebaran pun tetap nikmat, tanpa drama gula darah meningkat.

Disusun oleh: Alya Nadhifa_Co-Ass Ilmu Penyakit Dalam periode 5 Januari 2026 (P67)

PUASA AMAN PADA PASIEN DIABETES MELLITUS

Puasa di bulan Ramadhan tetap dapat dilakukan oleh pasien Diabetes Mellitus, dengan syarat dilakukan secara aman dan terkontrol. Melalui leaflet penyuluhan ini, masyarakat diajak menhetahui kunci utamanya berupa penilaian risiko, pemantauan gula darah, pengaturan nutrisi, dan aktivitas fisik yang tepat.

Sebelum memasuki bulan Ramadhan, pasien Diabetes Mellitus dianjurkan untuk melakukan konsultasi dengan dokter. Penilaian risiko pra-Ramadhan penting dilakukan untuk menentukan apakah pasien aman menjalani puasa.

Selama berpuasa, pemantauan glukosa darah mandiri sangat penting dan tidak membatalkan puasa. Puasa harus segera dibatalkan apabila muncul gejala hipoglikemia, hiperglikemia, maupun dehidrasi.

Pengaturan pola makan selama Ramadhan harus tetap seimbang. Sahur sebaiknya dilakukan mendekati waktu imsak agar energi dapat bertahan lebih lama dan kadar gula darah tetap stabil sepanjang hari. Kecukupan cairan juga perlu diperhatikan. Pasien dianjurkan untuk minum air putih yang cukup selama waktu berbuka hingga sahur, serta menghindari minuman berkafein karena dapat meningkatkan risiko dehidrasi. Aktivitas fisik tetap dapat dilakukan selama bulan Ramadhan. Akan tetapi, aktifitas fisik berat sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan risiko hipoglikemia dan dehidrasi.

Kenali batas tubuh, patuhi anjuran medis, dan jangan ragu membatalkan puasa bila muncul tanda bahaya. Menjaga kesehatan adalah bagian dari ibadah.

Disusun oleh: Anna Lailatul Hasanah_Co-Ass Interna_P66.1

Mengenal Penyakit Gondok Autoimun

Gondok tidak selalu disebabkan oleh kekurangan yodium. Salah satu penyebab yang sering terjadi adalah gondok autoimun, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali kelenjar tiroid sebagai “musuh” dan justru menyerangnya.

Melalui leaflet penyuluhan ini, masyarakat diajak mengenal dua jenis gondok autoimun yang paling sering ditemui, yaitu Graves’ disease yang menyebabkan hormon tiroid berlebihan (hipertiroid) dan tiroiditis Hashimoto yang berujung pada kekurangan hormon tiroid (hipotiroid). Keduanya memiliki gejala yang berbeda, mulai dari perubahan berat badan, denyut jantung, toleransi suhu, hingga pembesaran leher.

Deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan darah (TSH, T3, T4), antibodi tiroid, serta USG tiroid. Kabar baiknya, gondok autoimun bukan penyakit menular dan dapat dikontrol dengan pengobatan yang tepat.

Jika Anda atau keluarga merasakan keluhan serupa, jangan ragu untuk memeriksakan diri ke dokter. Edukasi yang tepat adalah langkah awal menuju kualitas hidup yang lebih baik.
Disusun oleh : Moh.Mukholid Wildan-CoAss Interna P65

Perawatan Kaki Diabetes di Saat Hujan dan Banjir

anjir merupakan jenis bencana paling banyak dan menyebabkan kerusakan fasilitas pelayanan kesehatan Selain iitu, curah hujan tinggi menyebabkansemakin tinggi air laut pasang /rob. Beberapa kerugian dapat dialami terutama pada masalah kesehatan seperti perawatan Kaki diabetes karena perlu perawatan optimal agar kaki tidak mengalami komplikasi . Co Ass Ilmu Penyakit Dalam P64.2

Bersabar dalam Menghadapi Penyakit & Balasan bagi Orang yang Sakit dari Allah SWT

Pernahkah kalian merasa lelah menghadapi sakit yang tak kunjung sembuh?
Atau bertanya-tanya, “Mengapa Allah memberi ujian ini padaku?”

Sakit sering kali membuat tubuh lemah tapi sebenarnya, Allah sedang menguatkan jiwa kita. Melalui rasa sakit, Allah ingin menghapus dosa, meninggikan derajat, dan menumbuhkan kesabaran yang mendekatkan kita kepada-Nya.

Leaflet ini mengajak kita memahami makna sabar dalam Islam bahwa sakit bukan sekadar penderitaan, tetapi sebuah ujian penuh kasih sayang yang dapat berubah menjadi pahala tanpa batas. Jangan biarkan sakit membuatmu putus asa biarkan ia menjadi jalan untuk lebih dekat dengan Allah SWT.

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Disusun oleh: Bumi Rahmatussyifa – Koas Interna Kelompok P64.1

Komunikasi pasien yang baik dan benar serta penjelasan Code Grey

Komunikasi pasien kepada dokter yang baik dan benar adalah proses penyampaian informasi secara jujur, jelas, dan terbuka mengenai keluhan, gejala, serta riwayat kesehatan yang dialami pasien. Pasien sebaiknya menggunakan bahasa yang sopan, mudah dipahami, dan tidak menyembunyikan informasi penting agar dokter dapat memberikan diagnosis dan penanganan yang tepat. Selain itu, pasien perlu mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama, bertanya bila ada hal yang belum dipahami, dan mengikuti anjuran medis dengan penuh tanggung jawab. Komunikasi dua arah yang saling menghargai akan menciptakan hubungan kepercayaan serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan

Code Grey adalah kode darurat rumah sakit yang digunakan untuk menandakan adanya situasi kekerasan, agresivitas, atau ancaman terhadap keamanan, baik yang dilakukan oleh pasien, keluarga, maupun pengunjung. Tujuan dari penerapan Code Grey adalah untuk melindungi keselamatan pasien, staf medis, dan lingkungan rumah sakit secara keseluruhan. Saat Code Grey diumumkan, tim keamanan dan petugas terkait segera bertindak untuk menenangkan situasi dengan cara yang aman dan profesional tanpa menimbulkan bahaya tambahan. Sistem ini menjadi bagian penting dalam manajemen keselamatan dan keamanan rumah sakit.

 Komunikasi  dokter, pasien, dan keluarga pasien yang harmonis

Komunikasi antara dokter, pasien, dan keluarga pasien harus dilakukan dengan empati, keterbukaan, serta menjunjung tinggi etika kedokteran. Dokter perlu mendengarkan keluhan pasien dengan penuh hormat dan menyampaikan diagnosis, rencana pemeriksaan, serta terapi menggunakan bahasa yang jelas dan mudah dipahami. Pasien sebaiknya diberi kesempatan untuk bertanya dan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan medis. Dalam kondisi tertentu, seperti pasien kritis, anak, lansia, atau ketika pasien tidak mampu membuat keputusan sendiri, keluarga dilibatkan secara aktif untuk memahami kondisi, risiko tindakan, prognosis, serta tindak lanjut yang diperlukan. Meski demikian, kerahasiaan medis tetap dijaga, dan informasi diberikan dengan izin pasien bila memungkinkan. Komunikasi triangular antara dokter, pasien, dan keluarga bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan, kepatuhan terhadap terapi, serta memastikan pasien mendapat dukungan emosional dari orang terdekat.