Lebaran Ajang Menyehatkan Jasmani dan Rohani pada Penderita Diabetes

Hari Raya Lebaran sejatinya adalah momentum pembersihan rohani yang memiliki korelasi positif terhadap kondisi fisiologis pada pasien diabetes; melalui aktivitas silaturahmi yang hangat dan ibadah yang khusyuk, tubuh mampu menekan produksi hormon kortisol (hormon stres), sehingga resistensi insulin dapat berkurang dan kadar gula darah menjadi lebih stabil. Namun, ketenangan jiwa ini harus dibarengi dengan kewaspadaan jasmani terhadap “jebakan” kuliner khas hari raya yang cenderung tinggi lemak jenuh dan santan. Untuk menyiasatinya, pasien diabetes sangat disarankan menerapkan Metode Piring T sebagai alat kendali porsi otomatis: mengisi setengah piring dengan sayuran berserat tinggi dan buah untuk menghambat penyerapan glukosa di usus, serta membatasi karbohidrat (ketupat) dan protein berlemak (opor/rendang) masing-masing pada seperempat bagian piring.
Hindari juga makan minum manis, gorengan, krupuk. Sebagai strategi tambahan, pilihlah hanya satu jenis hidangan “idola” di setiap rumah yang dikunjungi agar akumulasi kalori harian tidak melonjak tajam.

Selain pengaturan nutrisi, pemanfaatan tradisi Lebaran sebagai sarana aktivitas fisik (NEAT) sangat dianjurkan; dengan memilih berjalan kaki saat mengunjungi tetangga atau tetap aktif membantu tuan rumah, pasien dapat meningkatkan pembakaran glukosa otot secara alami tanpa harus melakukan olahraga berat. Kewaspadaan terhadap sugar spike juga harus ditingkatkan, mengingat konsumsi hanya 2–3 butir kue nastar sudah memiliki kepadatan kalori yang setara dengan setengah porsi nasi putih. Oleh karena itu, memprioritaskan air putih untuk menjaga hidrasi sebelum makan besar adalah langkah preventif yang cerdas guna menghindari rasa lapar palsu. Terakhir, euforia kemenangan tidak boleh melonggarkan kepatuhan pengobatan; penggunaan insulin atau obat oral harus tetap sesuai jadwal, disertai dengan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) secara berkala. Segera lakukan konsultasi medis jika muncul gejala kegawatdaruratan seperti lemas hebat, dehidrasi berat, atau penurunan kesadaran akibat fluktuasi gula darah yang ekstrim.

Disusun oleh : BIntang Wawang A, Co-Ass Ilmu Penyakit Dalam Periode 2 Februari 2026 (P68)

Leave a Reply